disepertiga malam
kala kesunyian benar-benar mencekam
aku ajak jemari-jemari ku menari menulis puisi luapan hati
aku kehilangan arah untuk melangkah
kabut telah menutupi jalan setapak yang seharusnya aku lalui
sekeping hati meronta dalam jiwa tak mau menerima
Bulan sabit yang dilukiskan sang malam
diatas canvas langit bertaburan bintang bak permata
seaka menertawakan raga yang terasa tak bernyawa
terlalu lama jika harus menunggu hujan badai ini berlalu
akan ku coba untuk menari bersama hujan meski tarian ku pincang
seperti kembang keabadian yang tetap bermekaran meski diterpa badai topan
sikapi semua dengan kebesaran jiwa hingga nanti sampai pada kehidupan yang sebenarnya
Kehidupan yang lebih bermakna
Guratan Pena :Ferdi Andria


Tidak ada komentar:
Posting Komentar