Sabtu, 13 Juli 2013
Kedamaian
dalam kehingan
kabut berenang ditengah gelombang
menjelang magrib dipintu malam
terbelai dingin udara pegunungan
ditepian dermaga terpecahnya gelombang
satu lentera masih menyala menerangi jiwa pada sudut keremangan
buih-buih memutih
sesekali unggas malam bernyanyi
berdendang menunggu riak gelombang sedikit tenang
aku benar-benar menikmati
melodi sederhana ditepian kesunyian
tampa disadari disini lonceng kedamaian berdering nyaring
sunyi kau ku sayangi
suasana sepertinya aku jatuh cinta
Guratan Pena : Ferdi Andria
Kamis, 11 Juli 2013
Getaran Rasa
sayu tatapan matamu
menyimpan sebuah harapan
berharap lisan ungkapkan perasaan
getaran cinta jelas terasa
diujung jalan setapak tak berjejak
pada hamparan menguningnya ilalang
kau beri aku setangkai bunga
akal menerka mungkin kau sendang ungkapkan cinta
tangan kiri kau gandengi terus melangkah hentakkan kaki
sepertinya terlalu cepat
rasa berkuasa ambil tahta ukir cerita..
Guratan Pena : Ferdi Andria
menyimpan sebuah harapan
berharap lisan ungkapkan perasaan
getaran cinta jelas terasa
diujung jalan setapak tak berjejak
pada hamparan menguningnya ilalang
kau beri aku setangkai bunga
akal menerka mungkin kau sendang ungkapkan cinta
tangan kiri kau gandengi terus melangkah hentakkan kaki
sepertinya terlalu cepat
rasa berkuasa ambil tahta ukir cerita..
Guratan Pena : Ferdi Andria
Segenap Tanya
Langkah terpenjara
dalam hujan tak mereda
jendela kaca terpecik gemercik
basah mengembun resah terlantun
terpahat tanya mencari kesalahan
tampa alasan kau beri kata perpisahan
tak bisa ku pahami ku coba untuk mengerti
rasa tak ingin bicara
tak berarti raga ikhlas menerima
biarkan bungkam dalam diam sejuta tanya bersemayam
Percuma luka kian menganga bila Emosi berbicara
lupakan kisah kelabu
mulai berjalan tampamu
seperti hari lalu sebelum mengenalmu
pada halaman 28 dalam catatan harian
aku tulis sepenggal cerita perjalanan dibawah rembulan
tutup telinggamu teruslah berjalan sayang!!
agar tak kau dengar jeritan insan dinisan kekecewaan
Guratan Pena : Ferdi Andria
dalam hujan tak mereda
jendela kaca terpecik gemercik
basah mengembun resah terlantun
terpahat tanya mencari kesalahan
tampa alasan kau beri kata perpisahan
tak bisa ku pahami ku coba untuk mengerti
rasa tak ingin bicara
tak berarti raga ikhlas menerima
biarkan bungkam dalam diam sejuta tanya bersemayam
Percuma luka kian menganga bila Emosi berbicara
lupakan kisah kelabu
mulai berjalan tampamu
seperti hari lalu sebelum mengenalmu
pada halaman 28 dalam catatan harian
aku tulis sepenggal cerita perjalanan dibawah rembulan
tutup telinggamu teruslah berjalan sayang!!
agar tak kau dengar jeritan insan dinisan kekecewaan
Guratan Pena : Ferdi Andria
Langganan:
Postingan (Atom)
