Halaman

Rabu, 26 Juni 2013

Cerita Yang Kau Sutradarai

MASIH INGATKAH KAU???
disaat mentari mulai menepi
ditengah belantara yang luas menghijau
luas besarnya tak sebanding dengan luka dihatiku karna mu

masih ku ingat jelas
saat kehadiran mu dalam kehidupan ku
dipuncak sumatra awal berjumpa semua seperti dinovel cinta
semua sangat indah seperti kembang edeluwis dilembah sana

lelah saat ku menggapai puncak, aku masih mampu tersenyum
tapi lemah seluruh tubuh ini saat lisan mu berucap ini semuanya hanyalah sandiwara
besar dan tulusnya cinta ini kau jadikan sebagai sebuah pelampiasan kekecewaan

aku teteskan air mata saat menginggat semua tentang mu
bagaimana mungkin Kau yang selalu aku banggakn didepan mereka
kau yang selalu aku puja didepan mereka. ternyata seorang seniman berbakat pelukis luka

dibalik wajah lugumu dan manja itu
kau menyimpan sebuah luka untuk insan yang selalu kau bisikkan kata rindu

dulu untuk mu
ku buang bahagiaku bersamanya, tak pernah aku sesali
aku tau sekarang Dia sangat membenciku, aku juga tak pernah menyesal
semua terjadi atas keinginanku, pilihan hati ku, jika harus terluka berarti itulah jalan ku

27 Desember 2011 - 12 maret 2012, meski singkat
bagiku terlalu lama kau habiskan waktu untk berpura-pura mencintaiku

tapi itu telah cukup mengajarkan aku tentang cinta mu yang semu itu..

"V Tersenyumlah untuk Jiwa yang terluka"
"V Tersenyumlah untuk semua ini...!!!! :)












KATA MEREKA TENTANG IBU

Aku sering bertanya pada orang-orang
tentang sosok dirimu pahlawan dalam hidupku

kata Ayah Ibu sangat senang dengan kehadiranku
kata Kakak Ibu orang yang sabar
kata Nenek Ibu orangnya senang berbagi
kata Tante Ibu orangnya rajin dan tekun
kata Paman Ibu orang yang kuat dan pemberani
kata Tetangga Ibu orang yang ramah
kata Orang-orang Ibu orangnya sangat baik

semua orang mengatakan yang mereka tau tentang Ibu ku
namun tak seorangpun yang tau, apa yang ingin ku katakan pada Ibu

aku ingin menatap wajahmu walau hanya sekejap
aku ingin bertemu walau hanya dalam tidur ku
aku ingin memeluk mu dan tak akan aku lepas
aku ingin merasakan sentuhan belaian lentik jari-jari mu
aku ingin merasakan kasih sayang tulusmu ibu
dan aku ingin seperti teman-teman ku yang bisa memanggil Ibu

mengapa ibu meninggalkan aku begitu cepat ??
belum sempat aku mengenal sosok dirimu yang tangguh itu

dapatkah kita bertemu dalam gelap pekat suasana malam??
Ibu saat fijar merah diujung langit barat mulai menghilang
jujur aku sangat merindukan hadirmu disamping ku

Guratan Pena : Ferdi Andria







HATI YANG BERKABUT

disepertiga malam
kala kesunyian benar-benar mencekam
aku ajak jemari-jemari ku menari menulis puisi luapan hati

aku kehilangan arah untuk melangkah
kabut telah menutupi jalan setapak yang seharusnya aku lalui
sekeping hati meronta dalam jiwa tak mau menerima

Bulan sabit yang dilukiskan sang malam
diatas canvas langit bertaburan bintang bak permata
seaka menertawakan raga yang terasa tak bernyawa

terlalu lama jika harus menunggu hujan badai ini berlalu
akan ku coba untuk menari bersama hujan meski tarian ku pincang
seperti kembang keabadian yang tetap bermekaran meski diterpa badai topan
sikapi semua dengan kebesaran jiwa hingga nanti sampai pada kehidupan yang sebenarnya
Kehidupan yang lebih bermakna

Guratan Pena :Ferdi Andria






Jumat, 21 Juni 2013

Aku Kau dan Dia Piramida Cinta

Dengkarkan Kasih..!!
puisi sedih gambarkan perih
karna engkau enggan memilih

Dengarkan Dinda ..!!
puisi lara gambarkan luka
karna kau Duakan Cinta

mengenalmu adalah sebuah kerumitan
bak berada diatas tandusnya perasaan
resah berselimutkan ribuan pertanyaan

tak mungkin Bintang dan Matahari terangi bumi secara bersamaan
seperti kisah ini tak mungkin terus ku jalani selagi kau mendua hati

Aku lelah aku berhenti ikuti rasa ini
aku mengalah biarkan aku yang pergi
aku berharap dengan kepergian ku membuat kau mengerti tentang pilihan

Semoga kebahagiaan selalu tersirat saat kau bersamanya
semoga hangatnya tawa selalu terpahat saat kau berjalan bersamanya
Maaf aku tak bisa menemani kau tertawa seperti sore itu saat kita tertawa menemani senja

"Thya"
Guratan Pena : Ferdi Andria




SAHABAT KECIL

Aku tulis syair ne untuk mu kawan
tentang kisah kita yang tak pernah luput dari ingatan
tentang canda tawa kita terkadang terdengar menggelegar

Motivasi dalam celoteh mu
masih terngiang dipusaran gendang telinga
kala ku mulai rapuh kau merangkul tubuh berlumuran keluh

ketika kita berpacu mengayuh sepeda
mengitari desa dalam hujan yang tak kunjung reda

Rindu-rindu mu kini tak lagi meronta
berubah menjadi buih-buih gelombang
perlahan mengikis tebing keangkuhan hati
sekedar ungkapan betapa aku merindukan mu kawan

Sabar tunggu rindu ku .!!!
esok atau lusa akan tiba saatnya
kita dipertemukan kembali dalam ruang waktu
saling merangkul bersama setumpuk cerita disela tawa

Guratan Pena : Ferdi andria



Rabu, 19 Juni 2013

SIRNA

Tergoda indahnya mentari pagi
hingga diriku terpuruk dalam dingin dekapan sang embun

tergoda akan indahnya warna senja yang merona
hingga diriku terjebak dalam dekapan gelapnya malam

dan tergoda diriku akan kejernihan telaga
hingga diriku terjebak dalam lembah yang bermuara keresahan

tak perlu meratapi takdir
tak perlu larut dalam himpitan penyesalan
mungkin kebahagian mu bukan bersama ku

tapi....
mengapa kau tidak mencoba melukiskan pelangi dihatiku ??
malah kau melukiskan luka bertinta jani-janji yang pernah kau ucapkan

semoga kebahagiaan itu selalu hadir bersamamu tampa sosok aku yang kau kecewakan.











LUKISAN PERASAAN

Kehadiran mu aku lukiskan dengan setangkai mawar
yang merekah indah ditaman gersang tandusnya perasaan
menghanyutkan aku dalam sejuta pesona semerbak aroma

Tapi kenapa kau ubah lukisan mawar nan anggun itu
menjadi panah yang busurnya menusuk relung hati yang tak terselami

sakit ketika terbangun dari mimpi
pandangan membuyar lukisan itu memudar
itulah object yang ditangkap oleh sepasang rentina
canvas yang aku tatap penuh dengan warna abu-abu tak menentu

titik keyakinan mati teracuni
aku hanyalah sebuah titian pengungsian
ketika langit hatimu diselimuti awan hitam

cerita gemuruh awan hitam
aku pahat menjadi potongan tongkat
agar kelak aku tak terjatuh pada lubang yang sama

ku lukiskan purnama merah
pada dinding kalbu nan membiru sebagai bentuk gambaran kekecewaan

 Guratan tinta :FERDI ANDRIA